Renungan: Tiga Pertanyaan

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus
(Yohanes 17:3).
Pada suatu malam, seorang anak laki-laki bermimpi bertemu dengan Tuhan Yesus. Dalam mimpinya itu ia diberi kesempatan untuk mengajukan tiga pertanyaan.
Ia mulai bertanya, “Tuhan, apakah kehidupan yang kekal itu?”
Tuhan Yesus tersenyum dan menjawab, “Saat engkau mengenal Aku, engkau akan dapatkan hidup yang kekal.”
“Bagaimana caranya aku dapat mengenal-Mu?” anak tadi mengajukan pertanyaan kedua.
“Luangkan waktumu untuk-Ku. Kita bisa berbagi cerita, tertawa bersama saat engkau bersukacita, atau bahkan menangis bersama saat engkau berduka. Kau bisa menemui-Ku, kapanpun dan dimanapun engkau mau. Bahkan setiap saat sebetulnya Aku rindu untuk bisa bersamamu tidak hanya seminggu sekali di Gereja yang dibatasi putaran jam-jam ibadah. Semakin sering engkau bertemu dengan-Ku, engkau akan semakin mengenal-Ku dan semakin mengerti betapa besar kasih-Ku kepadamu.”Dua pertanyaan sudah terlontarkan tinggal satu lagi pertanyaan dan sesudah itu tidak ada lagi pertanyaan yang bisa diajukan. Si anak berpikir, pertanyaan yang tepat apa yang bisa diberikan kepada Tuhan Yesus pada kesempatan terakhir ini agar tidak sia-sia.
Akhirnya… “Tuhan Yesus, maukah Engkau menjadi sahabatku, supaya aku dapat berbincang-bincang dengan-Mu setiap hari dan semakin mengenal-Mu, dan akhirnya aku akan mendapatkan hidup kekal itu?”
Tuhan Yesus tersenyum bahagia dan menjawab, “Tentu Aku mau anak-Ku sebab Aku sangat mengasihimu.”
Saudara, seberapa lama kita menjadi orang Kristen? Seberapa jauhkah kita mengenal Dia yang mengasihi kita?
Tuhan sangat ingin kita mengenal Dia, sebab Dia terlebih dahulu mengenal kita. Dia ingin kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita (Matius 22:37). Tapi terkadang kita cukup puas dengan mengenal-Nya sebatas yang kita tahu saat ini. Dan cukup puas mengerti bahwa Tuhan mengasihi kita. Mari saudara bawa hati kita, hidup kita untuk lebih mengasihi Dia. Semakin rindu dekat kepada-Nya, maka kita akan semakin merasakan kasih-Nya dan lebih mengenal-Nya. Dengan kasih, pengenalan kita kepada-Nya yang selama ini terbatas oleh akal budi, perasaan, dan kehendak kita akan dipulihkan.
By: Jasson Prestiliano

Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan sebuah tanggapan